Tokoh – Apa yang ada dibenak Ibu Digital ketika mendengar kata perpustakaan? Mungkin bangunan besar berisi rak-rak besar dan kokoh yang di dalamnya tersusun buku-buku beraneka judul dan tema. Dari pintu masuk, biasanya ada meja untuk petugas pelayanan pengunjung serta satu atau lebih perangkat komputer.

laila istiana

perpustakaan ibu laila istiana(foto pexels)

Dari komputer itu, pengunjung bisa mencari judul atau tema buku yang diinginkannya, mencari kodenya, kemudian meminta petugas mengambilkannya. Ada juga perpustakaan yang membolehkan pengunjung mencari sendiri buku yang diinginkannya. Ruang audio-visual juga tersedia bagi pengunjung yang ingin mencari informasi dari media selain buku. Mau berlama-lama di perpustakaan? Tidak masalah. Hawa sejuk dari AC setia menemani pengunjung.

Sayangnya, perpustakaan seperti itu hanya ada di wilayah perkotaan. Di desa? Jangankan katalog dan AC, tersedia buku dalam jumlah yang memadai saja sudah bagus. Malah, masih banyak desa yang tidak terjangkau perpustakaan. Tidak heran jika minat baca di desa masih sangat rendah. Padahal, ponsel pintar sudah memasuki rumah tangga yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih kesulitan.

Anggota Komisi X DPR RI dari Partai Amanat Nasional, Laila Istiana Diana Savitri, mengungkapkan anggaran Rp600 juta setahun untuk Perpustakaan Nasional terlalu sedikit. Anggaran sebesar itu diperuntukkan bagi pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia. Tidak heran jika masih banyak desa yang belum bisa menyediakan perpustakaan. Keinginan Komisi X untuk memperbanyak taman bacaan desa pun belum bisa dipenuhi.

Untuk mengatasi ketiadaan perpustakaan di desa, pemerintah menyediakan mobil perpustakaan. Mobil perpustakaan ini berkeliling desa setiap hari dari pagi hingga sore untuk mengajak masyarakat gemar membaca. Untuk Kabupaten Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar yang menjadi daerah pemilihannya, Laila Istiana sudah menyalurkan satu buah mobil perpustakaan. Terbatasnya dana dari pusat menyebabkan pengadaan mobil perpustakaan dilakukan dengan sangat selektif.

Namun, mobil perpustakaan hanya menjangkau wilayah yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Karena itu, Laila juga menginginkan diadakannya motor perpustakaan untuk desa. Dengan adanya motor perpustakaan, diharapkan rakyat di dusun-dusun dan gang-gang sempit bisa menikmati bacaan. Sayangnya, usulan itu belum mendapat tanggapan memuaskan dari pemerintah.

Menumbuhkan minat baca tidak hanya dilakukan dengan menyediakan sarananya. Perpustakaan, taman bacaan, dan buku-buku tidak akan ada artinya kalau minat baca rendah. Karena itu, penting bagi orang tua dan pihak sekolah untuk melakukan berbagai upaya menaikkan minat baca. Orang tua bisa memberi contoh dengan kebiasaan membaca koran atau buku-buku di rumah. Anak yang orang tuanya punya kebiasaan membaca akan meniru kebiasaan tersebut.

Di sekolah, sayangnya, tidak ada kewajiban siswa mencari sumber pengetahuan selain dari buku-buku paket, juga tidak ada kewajiban siswa membaca buku kemudian menceritakan kembali isinya. Di tengah serbuan ponsel pintar yang memberikan kesenangan semu dengan harga murah, semestinya guru dan orang tua bisa menangkalnya dengan membiasakan atau mewajibkan anak membaca buku.
Belum lagi acara-acara televisi yang sangat tidak mendidik namun menarik minat anak-anak. Selain membuat anak malas belajar, apalagi beribadah, terbiasa menonton tayangan televisi membuat otak malas berpikir. Seperti kita tahu, saat menonton televisi, kita hanya menerima apa yang disajikan. Tidak perlu berimajinasi untuk memahami sebuah cerita seperti halnya saat kita membaca buku. Selain itu, menonton televisi memberikan efek hipnosis. Sudah biasa kita mendengar keluhan ibu-ibu tentang anaknya yang tidak menyahut ketika dipanggil atau diajak bicara. Hal itu juga terjadi pada orang yang memainkan ponselnya.

Program Bimbingan Teknis Gemar Membaca yang diselenggarakan pemerintah mengajak masyarakat, khususnya di desa, untuk kembali ke buku. Laila Istiana sudah empat kali menyelenggarakan bimbingan teknis ini atas biaya dari pemerintah. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat desa tidak lagi miskin pengetahuan. Keterbelakangan dan kebodohan masyarakat desa akan hilang, berganti menjadi keluasan ilmu. Jika masyarakat sudah gemar membaca, kejayaan negeri sudah di depan mata.

(Visited 28 times, 1 visits today)