Nama Helvi Tiana Rosa sudah lama dikenal sebagai penulis novel. Namun, kini Helvi memiliki profesi baru sebagai produser film yang diangkat dari karya novel larisnya “Ketika Mas Gagah Pergi”, yang sudah 46 kali dicetak ulang.

Ketika Mas Gagah Pergi

Buku Ketika Mas Gagah Pergi

Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta ini tergerak untuk menjadi produses film karena memiliki beberapa kriteria dan tujuan tersendiri. Ia juga ingin mempertahankan kesan Islami di film yang dibuatnya tersebut.

Selain itu, ia juga berkomitmen agar 50% dari keuntungan yang didapat dari Film Ketika Mas Gagah Pergi The Movie akan didonasikan untuk dana sosial dan kemanusiaan melalui Aksi Cepat Tanggap.

Di luar itu, apabila tercapai 1 juta penonton, dia ingin agar keuntungan yang didonasikan masing – masing sebesar Rp 1 Miliar untuk pendidikan anak – anak Indonesia bagian Timur dan Palestina.

Helvy juga memiliki kriteria lain nya. Dia ingin menghadirkan film Religi Remaja yang tidak menampilkan adegan pelukan maupun berciuman, ataupun memamerkan bagian tubuh seperti paha.

Akhirnya, atas kepercayaan dari para pembaca dan banyak pihak untuk mengangkat novel nya ke layar lebar, Helvy pun memberanikan diri menjadi produser.

Memulai karier di dunia perfilman, Helvy banyak menerima masukan dari sang adik, Asma Nadia, seorang penulis yang sudah terlebih dahulu berkecimpung di dunia perfilman. Asma selalu mendukung apa yang Helvy lakukan, begitupun sebaliknya. Salah satu bentuk dukungan Asma dengan mau menjadi cameo di film yang dibuatnya.

” Tidak hanya Asma saja, total ada 30 cameo di film, mulai dari Joshua, Miller Khan, Fendy Chow, Firza Idol, dan Nungki Kusumastuti,” ujar pendiri Forum Lingkar Pena ini.

Terjun langsung sebagai produser dari karya yang telah ia tulis pada tahun 1992, Helvy pun mengaku sempat menemui kesulitan dengan pendanaan untuk film perdananya tersebut. Akhirnya, para pembaca buku ini memutuskan untuk patungan membuat film. Hadir satu gerakan patungan pembaca, mereka patungan mulai dari Rp 500 dari anak SD hingga ada pula yang menyumbang Rp 100 juta.

Tak hanya berujud uang. Patungan untuk film yang para pemain utamanya dipilih melalui open casting itu juga berupa bantuann lain, seperti banyak nya pihak yang sukarela mau memberikan lagu untuk menjadi soundtrack filmnya.

“Alhamdulillah, perjuangan 12 tahun untuk membuat film ini akhirnya selesai. Gerakan patungan ini dimulai pada awal 2015, saya pergi untuk keliling ke 120 kota,” kenangnya.

Ketika Mas Gagah Pergi merupakan film yang hype dan light, serta sangat berjiwa anak muda. Film mengangkat kisah tentang kakak dan adik. Pesan di film ini adalah Islam itu cinta dan indah.

“Semoga Film ini bisa ikut membangun karakter anak muda secara umum dan pemuda Muslim khususnya,” harap Helvy.

(Visited 224 times, 1 visits today)